Bukan Sekadar Membersihkan Sungai: Kidung Rindu Santri Ponpes KH Zaenal Asyikin Banglarangan Pemalang Menanti Datangnya Bulan Suci
Pemalang – Pagi itu, Rabu (18/2), langit di atas Desa Banglarangan, Pemalang, tampak syahdu. Aroma tanah basah sisa hujan semalam masih menguar kuat, bercampur dengan sejuknya angin Februari yang menusuk tulang. Namun, di Pondok Pesantren KH Zainal Asyikin, keheningan pagi tidak diisi oleh lantunan dzikir atau suara membalik halaman Alquran seperti biasanya.
Pagi ini, suara yang terdengar adalah derap langkah penuh semangat dan kecipak air.
Menyongsong fajar Ramadan 1447 Hijriah yang kian dekat, para santri yang bernaung di bawah panji LDII Pemalang ini memilih meletakkan pena mereka sejenak. Mereka turun ke lapangan, menyingsingkan lengan baju, dan melipat celana hingga lutut. Wajah-wajah muda itu berseri, seolah sedang menyambut kedatangan kekasih yang lama dinanti. Bagi mereka, Ramadan adalah “Tamu Agung”, dan tidak ada tuan rumah yang baik yang membiarkan tamunya datang ke rumah yang kotor.
Sorot mata mereka tertuju pada aliran sungai yang membelah lingkungan sekitar pondok. Di musim penghujan dengan curah yang ekstrem belakangan ini, sungai itu tampak lelah menampung beban. Sampah dan ranting yang tersangkut menghambat napas air, menyimpan potensi banjir yang sewaktu-waktu bisa meluap dan merenggut kenyamanan ibadah.
Tanpa dikomando dua kali, para santri menceburkan diri. Tangan-tangan mereka yang biasanya halus memegang pena, kini bergulat dengan lumpur dan sampah. Mereka mengangkat sumbatan-sumbatan itu, membebaskan aliran sungai agar kembali jernih dan lancar. Ada tawa yang pecah di sela peluh, ada semangat gotong royong yang mengikat hati mereka lebih erat daripada sekadar ikatan pertemanan biasa.

Di tepi kegiatan itu, Pengurus Pondok, Milkhan, mengamati dengan tatapan teduh. Bagi sang pengurus pondok, pemandangan di hadapannya bukan sekadar kerja bakti membersihkan selokan.
“Ini adalah madrasah kehidupan,” gumamnya dalam hati, yang kemudian ia sampaikan kepada para santri. Baginya, membersihkan sungai adalah metafora dari membersihkan hati. Kegiatan ini menempa karakter santri untuk peduli, bertanggung jawab, dan mencintai bumi tempat mereka bersujud.
Target besar “5 Sukses Ramadan”—mulai dari sukses puasa hingga sukses zakat fitrah—tidak mungkin dicapai dalam kekhusyukan yang sempurna jika lingkungan tempat mereka bernaung tidak mendukung. Kebersihan fisik lingkungan adalah gerbang menuju kebersihan rohani.
Saat matahari mulai meninggi dan aliran sungai kembali mengalir tenang tanpa hambatan, ada rasa lega yang menjalar. Pesantren kini tampak lebih asri, siap menjadi benteng spiritual. Di Banglarangan, para santri telah membuktikan satu hal: bahwa menyambut Ramadan bukan hanya dengan lisan yang berdzikir, tetapi juga dengan tangan yang bekerja merawat semesta.
Kini, mereka siap. Hati mereka lapang, selapang aliran sungai yang baru saja mereka bersihkan, menanti berkah Allah SWT yang jatuh bersamaan dengan hadirnya bulan suci Ramadan. (KIM)

Alhamdulillah 🤲🏻🤲🏻 ya Allah Masya Allah 👍🏻👍🏻👍🏻❤️❤️💪💪