Gandeng PWI, LDII Pemalang Bekali Generasi Muda Hadapi Era Post-Truth lewat “Ngobras Jurnalistik”
Pemalang – Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Kabupaten Pemalang menggelar kegiatan bertajuk “Ngobrol Asik (Ngobras) Jurnalistik” pada Sabtu (28/2). Bertempat di Aula Kantor DPD LDII Pemalang, Kecamatan Taman, acara ini menggandeng Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Pemalang untuk memperkuat kapasitas literasi digital dan jurnalistik warga LDII.
Kegiatan dibuka dengan nasehat dari Dewan Penasehat DPD LDII Pemalang, Kustoro, yang kemudian dilanjutkan dengan pengantar strategis dari Sekretaris DPD LDII Pemalang, Edy Cahyadi. Dalam paparannya, Edy mengingatkan bahwa di era digital, media sosial adalah sumber daya krusial yang menentukan ke mana arah sebuah organisasi.
”Media di era post-truth saat ini dipenuhi algoritma dan hoaks. Kebohongan yang disampaikan terus-menerus bisa berbalik dianggap sebagai kebenaran jika kita tidak adaptif dan bijak mengelolanya,” tegas Edy.
Etika di Atas Viralisasi
Menghadirkan narasumber dari PWI Kabupaten Pemalang, Ali Basarah membedah materi jurnalistik khusus bagi Gen-Z LDII Pemalang. Ali menekankan bahwa menjadi relevan dengan perkembangan zaman adalah keharusan, namun tetap harus dipagari oleh kode etik.
”Viral saja tidak cukup. Produk jurnalistik yang berkualitas harus menjunjung tinggi etika dan secara tegas memerangi hoaks atau berita bohong,” ujar Ali di hadapan para peserta.
Membangun Wajah Inklusif Organisasi
Sesi berikutnya diisi oleh Sabila, kontributor Lines LDII Pemalang, yang membawakan materi bertajuk “Wajah Inklusif LDII”. Ia mengajak para kontributor dari tingkat Pimpinan Cabang (PC) hingga Pimpinan Anak Cabang (PAC) untuk lebih peka dalam menggunakan bahasa.
”Kita harus menghindari jargon internal agar produk jurnalistik kita lebih ‘membumi’ dan dapat dipahami oleh masyarakat luas. Setiap kegiatan harus dikonsep dengan angle yang menarik dan memiliki dampak nyata bagi masyarakat,” jelas Sabila.
Ketajaman Visual dan Pesan Penutup
Tak hanya narasi teks, aspek visual juga menjadi sorotan. Joko Widodo dan Kiki Abdul Aziz memaparkan teknik fotografi dan videografi. Mereka menekankan pentingnya menangkap momen kunci serta ketepatan teknis dalam pengambilan gambar, baik dalam format landscape maupun portrait, guna mendukung kekuatan cerita.
Acara ditutup dengan pesan pamungkas dari Ketua DPD LDII Pemalang, Agus Sarwono. Ia mengingatkan bahwa media bukan sekadar alat komunikasi, melainkan cerminan marwah sebuah lembaga.
”Media adalah etalase kita dalam membangun citra organisasi. Melalui jurnalistik yang positif, kita tunjukkan kontribusi LDII bagi masyarakat,” pungkas Agus. (KIM)
