Satgas P2KP Kemenag dan LDII Pemalang Gelar Sosialisasi Anti-Bullying, Tawarkan Solusi Konkret Melalui 29 Karakter Luhur
Pemalang — Dewan Pimpinan Daerah Lembaga Dakwah Islam Indonesia (DPD LDII) Kabupaten Pemalang secara tegas dan tanpa kompromi menolak segala bentuk perundungan (bullying) di lingkungan pendidikan, baik formal maupun informal. Di tengah maraknya kasus perundungan yang kini menjadi perhatian serius di Kabupaten Pemalang, LDII memandang bahwa penanganan kekerasan tidak cukup hanya dengan sanksi, melainkan harus dimulai dengan membangun fondasinya melalui implementasi pendidikan karakter yang kuat.
Sebagai bentuk komitmen dalam mendukung program Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (Satgas P2KP) Kabupaten Pemalang di bawah kendali Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Pemalang, DPD LDII menggelar sosialisasi anti-perundungan bertajuk pembentukan karakter luhur di Aula Pondok Putri Pondok Pesantren KH Zainal Asyikin, Desa Banglarangan, Kecamatan Ampelgading, Kabupaten Pemalang, Sabtu (17/10).
Kegiatan tersebut menghadirkan Sekretaris DPD LDII Kabupaten Pemalang, H. Edy Cahyadi, sebagai pemateri utama. Dalam pemaparannya, ia menegaskan bahwa menjawab tantangan tingginya kasus perundungan di Kabupaten Pemalang memerlukan solusi yang mendasar, yakni pembentukan pendidikan karakter para santri. LDII mengusulkan implementasi nilai-nilai luhur yang disarikan dari 29 Karakter Luhur—khususnya prinsip 4 roda berputar dalam kehidupan yang disandingkan dengan 5 kiat/syarat untuk mewujudkan kerukunan antar sesama saudara Islam—sebagai pedoman mutlak dalam mencegah kekerasan di lingkungan pondok pesantren.
“Kita melawan perundungan dengan pendidikan karakter. Melalui pedoman 4 Roda Berputar dan 5 Syarat Kerukunan yang bersumber dari pembinaan 29 Karakter Luhur, para santri diajarkan untuk menjadi pribadi yang dewasa, mampu mengendalikan diri, menghormati sesama, serta memiliki kepedulian tinggi. Jangan sampai perkataan maupun tindakan kita menyakiti orang lain,” tegas H. Edy Cahyadi di hadapan para santri.
Ia menambahkan, penerapan nilai-nilai kerukunan dan keharmonisan ini terbukti efektif dalam meredam potensi gesekan sosial, sekaligus memastikan bahwa lembaga pendidikan tidak tercemar oleh tindakan tidak terpuji maupun kekerasan psikis dan fisik.

Lebih lanjut, H. Edy Cahyadi mengajak seluruh santri untuk aktif menjaga iklim kekeluargaan di lingkungan pesantren, menjadikan ponpes sebagai rumah kedua yang aman, serta berani bersikap proaktif apabila mendapati ketidakadilan atau tindakan kekerasan di sekitar mereka.
“Pondok pesantren harus menjadi tempat yang ramah dan aman bagi seluruh santri. Mari kita tumbuhkan rasa saling menyayangi, menghargai perbedaan, dan peduli terhadap kondisi teman. Jika melihat teman mengalami kesulitan atau menjadi korban perundungan, jangan diam—bantu dengan cara yang tepat dan segera laporkan kepada pengurus pesantren,” pesannya.
Melalui kegiatan sosialisasi ini, DPD LDII Kabupaten Pemalang optimistis bahwa pembudayaan pendidikan karakter mampu menjadi solusi jangka panjang yang solutif. Kegiatan ditutup dengan doa bersama dan sesi dokumentasi bersama jajaran pengurus, para santri, serta Tim Satgas P2KP Kabupaten Pemalang.
Dengan langkah strategis ini, Ponpes KH Zainal Asyikin Banglarangan diharapkan tidak sekadar menjadi pusat pendalaman ilmu agama, melainkan bastion kokoh yang melahirkan generasi bangsa yang berakhlak mulia, rukun, kompak, serta sepenuhnya bebas dari ancaman perundungan. (KIM)
